My beloved son

My beloved son
fadhil gi happy

Senin, 20 Juni 2011

Tujuh Indikator Kebahagiaan Dunia




Suatu ketika Ibnu Abbas (salah seorang sahabat Nabi) pernah ditanya oleh para Tabi’in mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :

Pertama : Hati yang selalu bersyukur Jadi kalau kita ingin bahagia di dunia, hati kita harus selalu mempunyai jiwa syukur,artinya selalu menerima apa adanya. Apapun yang ada digenggaman kita harusdisyukuri, walaupun dalam keadaan sulit. Supaya bisa bersyukur dalam keadaansulit Nabi SAW mengatakan: Kalau kita sedang sulit perhatikan orang yanglebih sulit dari kita. Orang yang senantiasa bisa bersyukur juga akan terhindar dari sifat tamak dan sombong.
Kata Imam Ghazali ada 3 hal yang membuat kita sombong :
• Ilmu dan kecerdasan. Ilmu dan kecerdasan itu sangat rawan mengantarkan kita kepada kesombongan, makanya Allah sangat cinta kepada orang-orang yang berilmu tetapi rendah hati, dan Allah sangat murka kepada orang-orang bodoh dan takabur.
• Kekuasaan. • Kekayaan.

Kedua : Pasangan hidup yang sholeh/sholehah Pasangan hidup yang sholeh/sholehah adalah yang bisa melengkapi kekurangan pasangannya, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan saling tolong menolong (bekerja sama) dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT.
Ketiga : Anak yang sholeh dan berbakti Ada cerita pada saat Rasulullah SAW sedang thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : Kenapa pundakmu itu ? Jawab anak muda itu : Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya. Lalu anak muda itu bertanya: Ya Rasulullah apakah kalau sudah melakukan itu, apakah aku termasuk ke dalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ? Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu mengatakan: Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu.

Keempat : Lingkungan yang baik Yang dimaksud dengan lingkungan yang baik adalah lingkungan yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Makin berat tantangan yang ada di lingkungan kita tetapi kita mampu membentuk komunitas yang sholeh, nilai pahalanyanya Insya Allah sangat tinggi di sisi Allah SWT.

Kelima : Harta yang halal Paradigma tentang harta yang bisa membawa kebahagiaan adalah bukan terletak pada banyaknya harta tetapi halalnya. Meskipun di dalam banyak ayat dan hadits Nabi baik yang tersurat maupun tersirat, Allah SWT menyuruh hamba-Nya untuk menjadi kaya agar bisa mengeluarkan zakat, infaq, dan shadaqah, agar bisa menjalankan kewajiban-kewajiban dengan baik, agar bisa menafkahi keluarganya dengan baik, agar bisa membantu sesamanya, dan lain-lain. Harta yang haram itu dibedakan menjadi dua macam, yaitu zat yang haram dan cara yang haram.

Keenam : Semangat untuk memahami agamaKetika kita bersemangat untuk terus menimba ilmu (upgrading) dan terus berusaha memahami agama, maka kita sudah mendapatkan sebagian dari kebahagiaan hidup dunia. Dan sekaligus menembah bekal kita untuk hidup di akherat kelak.

Ketujuh : Umur yang barokahUmur yang barokah adalah semakin bertambahnya usia seseorang, maka ia semakin baik (sholeh). Ibarat ilmu padi, semakin tua maka semakin merunduk, karena semakin berisi/berbobot. Yang perlu kita renungkan bahwa kita itu sesungguhnya mempunyai kapling, hanya saja kita tidak tahu kapling kita pada umur berapa. Kita tidak perlu takut dengan kematian, karena hal itu pasti akan terjadi pada setiap orang, yang harus kita khawatirkan adalah apa yangkita bawa pada saat kita mati nanti.

Demikian tadi ketujuh hal yang akan membuat kita hidup bahagia di dunia, dan akan menjadi bekal utama kita hidup di akherat. Seandainya kita belum mampu untuk meraih ketujuh hal tersebut semuanya, setidaknya kita sudah meraih enam atau lima, atau setidaknya kita sudah berupaya untuk meraihnya sebanyak mungkin sesuai dengan kemampuan yang kita miliki.Yang menjadi masalah adalah kalau kita tidak mendapat satupun dari ketujuh indikator kebahagiaan itu. Na’udzubillahi min dzalik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar